Semestaku


Aku pernah mengenal seseorang. Kami belum pernah bertemu secara langsung karena sebuah jarak yang memisahkan. Singkatnya hanya berkenalan melalui gawai secara virtual. Sebelumnya aku tidak pernah memiliki gambaran tentang dunia virtual seperti apa hingga semesta entah dengan cara seperti apa memperkenalkanku dengan dirinya yang jauh di seberang pulau.

Sebuah gambar pertama kali kukirimkan untuk membuka percakapan random yang direspon olehnya. Dia memiliki minat dalam mempelajari logat bahasa daerahku. Untuk pertama kalinya aku yang tidak begitu senang dalam merespon pesan orang asing merasa seperti ada tarikan magnet dari arah kutub lain untuk membalas pesan darinya. Lucunya percakapan teks kami berlanjut seharian dengan membahas topik random yang terlintas begitu saja. Aku tentu merasa penasaran dengan identitas orang asing yang tengah kutemani ini.

Tampak foto profil laki-laki dari samping mengenakan jaket hoodie hitam dan masker putih dengan warna latar yang kontras menarik rasa penasaranku namun tentu saja aku tidak akan bertanya mengenai identitasnya karena niatku hanya mencari orang asing untuk membahas hal random dan tidak ingin lebih dari itu. Kenyataannya aku mendapatkan feedback darinya. Kami memiliki frekuensi obrolan yang sama.

Hari demi hari nyatanya kami saling mengisi kekosongan dengan berbagi keseharian melalui pesan teks, kami sering berdiskusi dan bertukar pendapat tentang background keilmuan masing-masing. Aku membuka identitas diriku begitupun dengan dirinya. Semuanya terjadi dengan cepat dan begitu saja. Percakapan kami mengalir seperti sungai. Aku begitu dengan mudahnya menaruh rasa percaya kepada seseorang yang bahkan tidak kukenal di kehidupan nyata serta tanpa ragu membuka diri kepadanya.

Aku senang bercerita kepadanya tentang langit senja serta mengirimkan beberapa gambar yang kuambil dari berbagai sudut kotaku. Hari itu aku juga meminta dirinya untuk mengirimkan beberapa gambar tentang kereta api. Aku selalu merasa penasaran bagaimana rasanya berada diatas kereta api sambil menatap pemandangan di luar kereta. Namun hari itu hujan turun di kotanya sehingga hanya menampakkan butiran gerimis diluar jendela kereta.

Satu gambar palang kereta menjadi  notifikasiku di sore hari. Awan yang mendung sehingga enggan menampakkan seberkas cahaya senja. Aku tersenyum mengamati gambar dan caption yang dia kirim. 

Senja untuk si pecinta senja

Satu hal yang kutau dari dirinya sangat menyukai jajanan cilok. Ketika turun ganti kepala di stasiun, sebelum berangkat latihan dikampus, setelah mengikuti ujian hingga di bukit paralayang pun dia akan mengambil gambar cilok yang dibungkus dan memakannya langsung dari ujung plastik.


Kami sering membahas kuliner dari daerah masing-masing. Aku yang senang memasak makanan khas daerahku dan dia yang juga tentunya punya ketertarikan di dunia kuliner. Satu hal yang kurasakan ketika berinteraksi dengannya adalah perasaan nyaman dan aman. Aku bahkan ingat pertama kali berbicara dengannya di telfon. Suara khasnya yang medhok dan terdengar sedikit grogi. Kami berbicara saling bersaut-sautan menunggu giliran satu sama lain. Aku dengan kebiasaanku berbicara cepat sedangkan dia dengan intonasi yang lebih lambat. Dia merupakan pendengar dan penyimak yang baik serta pemberi tanggapan yang kritis. Kami berbicara tentang banyak hal random hingga larut malam.

Aku menghabiskan hari demi hari menghubungi dirinya. Saat berada dikereta api perjalanan pulang menuju kampung halamannya dia akan merekam announcement yang ada di kereta lalu mengirimnya kepadaku lantas kami akan mencoba untuk meniru isi pesan dari announcement tersebut. 

Dia senang mengirim pesan menggunakan logat daerahku dan aku dengan senang hati mengajarinya. Terdengar kaku dan sangat lucu. Aku menunjukkan banyak hal kepadanya tentang kota kelahiranku. Tempat wisata, makanan khas daerah, budaya hingga mengenalkannya kepada teman-temanku. Orang asing ini kubiarkan masuk dan mengenal diriku dengan sangat dalam.

Aku sangat senang ketika dia menunjukkan beberapa spot di halaman rumahnya. Sangat asri dan terawat. Dia bahkan mengajakku berandai untuk duduk saling berhadapan di gazebo halaman rumahnya. Aku sungguh sangat senang ketika dia menceritakan dan menunjukkan beberapa hal yang ada di halaman rumahnya.

Terkadang aku merasakan perasaan hampa dan mencari dirinya ketika beberapa jam tidak menemui notifikasinya. Aku terlalu terbiasa dengan kabar darinya meskipun hanya menyangkut tentang kegiatan sehari-hari. Aku selalu ingin tau tentang dirinya. Satu senyumanku akan terbersit tatkala mendapatkan notifikasi darinya. Membuatku merasa lega mendapatkan kabar darinya.


          

Dia selalu membagi foto ketika pergi ke suatu tempat. Aku ingat hari dimana kami sempat bertengkar dan tidak saling mengirim pesan seharian lantas setelahnya aku meminta maaf kepadanya dan menanyakan keberadaannya saat itu.

Hadiah buat kamu

Aku selalu merasa tersentuh dengan hal kecil yang sering dia lakukan. Mendengarkan celotehanku dengan antusias, memberiku sudut pandang yang baru, menghargai perbedaan pendapatku dan menjadi support system terbaik yang kutemui setelah keluarga dan teman-teman terdekatku. Dia selalu mendukung penuh pada rencana yang akan kulakukan kedepannya. Kepadanya kurasa menemukan rumah yang nyaman untuk pulang. Dia selalu menjadi orang pertama yang terlintas dibenakku untuk berbagi rasa bahagia maupun sedih.

Bagian terfavoritku adalah pada saat dia pulang ke kampung halaman dan akan menaiki kereta. Aku dengan senang hati menemainya diskusi sepanjang perjalanan. Tentu saja, foto langit adalah sebuah kewajiban yang harus dia kirimkan kepadaku.  

            

Dia akan berbagi foto langit manakala fajar, senja maupun malam pada saat ratusan bintang menghiasi langit. Bagiku semua hal kecil yang dia lakukan akan terasa sangat istimewa dan berharga.

Dia sering berandai...

Aku lahir di kota yang sama dengannya

Jarak rumah kami berdekatan

Akan mengantarku kemanapun aku ingin pergi

Mengajakku pergi ke bukit paralayang dan air terjun

Ah, betapa indahnya sebuah perandaian yang dia ciptakan. Namun apapun bentuk dari perandaian hanyalah sebuah perandaian.

Semesta tau bahwa ada rasa yang kusimpan melebihi rasa nyaman. Semesta tau ada rasa yang diam-diam ku lambungkan kepada langit dan berharap suatu saat nanti dapat terwujud. Semesta tau bahwa pemenangnya tetaplah dia. Dia sang pemilik alis rapi dengan senyum yang menenangkan.

Comments

Popular posts from this blog

Dialog Sore

Kembali Untuk Pergi