Dialog Sore





Sore itu matahari bersembunyi dibalik awan kelabu. Tidak terlalu nampak. Aku memasuki sebuah ruangan dengan nuansa krem pada dinding tembok serta terdapat beberapa tulisan didalamnya. Aku mendapati sosok lelaki menggunakan celana jeans coklat muda dan baju kaos lengan panjang tengah berbincang sambil sesekali tertawa. Aku lantas masuk dan mengambil tempat duduk dihadapannya. Wajahnya familiar, ah aku ingat! Itu adalah pertemuan kedua kami. Aku tersenyum kepadanya sebagai bentuk sapaan. Lalu dia mulai membuka obrolan. Dia bertanya mengenai namaku dan kami berbincang-bincang ringan. Wajahnya tidak terlalu bulat juga tidak tirus, kulitnya putih pasi, rambut lebat hingga menutupi keningnya serta alis rapi yang membingkai kedua mata sayunya. 

Perhatianku diambil alih oleh banyaknya novel yang berserakan di atas  karpet. Rupanya, itu miliknya. Aku mengambil satu karya novel Pram yang berjudul Bumi Manusia. Novel itu sudah lama ingin kubaca. Aku mengambilnya dengan mata penuh berbinar. Ada novel sejarah dan juga filsafat serta beberapa novel dari karya penulis-penulis lainnya. Sewaktu ingin membaca sinopsisnya, dia mengangkat suara lantas perhatianku jatuh kepadanya. Dia mulai bertanya tentang tokoh-tokoh filsafat dan beberapa penemuannya. Aku melongo. Benar-benar terlihat seperti orang bodoh. Hari itu adalah kali pertama seseorang melemparkanku pertanyaan yang sulit untuk ku jawab. Rasanya otakku begitu kosong dan menerawang jauh. Lagi, ketika dia berbicara mengenai sejarah aku hanya mendengarkan dan menatap kedua mata sendunya. Dia terus berbicara mengenai Aristoteles, Hipocrates, Plato, Dewi Athena, Ibnu Sina, dan masih banyak lagi para filsuf lainnya.

Tidak lupa dia menambahkan cerita-cerita unik dibaliknya. Semisal tentang kisah Laila & Majnun bahkan tentang Tirto Adhi Suryo. Saat hendak membuka halaman pertama novel Bumi Manusia dia kembali bersuara, “Tau Minke berasal dari bahasa apa?” aku mengangkat kepala menoleh kepadanya. Aku diam dan menggelengkan kepala “Minke berasal dari kata Monkey : Monyet. Orang-orang Belanda memanggilnya Minke karena wajahnya menyerupai monyet” aku terkejut mendapati fakta baru dari tokoh utama yang dikisahkan Pram tersebut. Lagi, dia membuatku terlihat bodoh. Dia juga bertanya seputar ilmu farmasi yang menjadi jurusanku saat ini. 

“Tau sejarah farmasi?”
“Siapa tokoh kedokteran yang menemukan khamr?”
“Apa perbedaan analgetik dan analgesik?”
“Apa itu obat terlarang?”

Pertanyaan-pertanyaan itu dilayangkan kepadaku. Dan aku sekali lagi hanya diam sambil menyahut samar-samar yang kutau. Dia tetap meluruskan jawaban yang kuberi. Dua jam lebih kuhabiskan hanya untuk mendengar celotehan-celotehannya mengenai sejarah pers dan tokoh-tokoh pergerakan nasional. 

Saat itu aku bertanya dalam hati benarkah laki-laki dihadapanku ini adalah seorang tenaga medis? pasalnya, aku bingung. Dia begitu luas dan indah dengan wawasan yang dia punya. Aku belum pernah bertemu dengan seseorang hanya untuk menghabiskan waktu berbicara mengenai filsafat dan juga sejarah. Dia seperti tokoh realisasi dari novel-novel yang sering kubaca. Begitu unik dan mengagumkan. Dia juga pecinta sastra. Suka menulis dan juga membaca. Pemikirannya kritis dan terbuka serta memiliki pola pikir yang cukup kompleks. Rumit melebihi Kompleksometri yang sudah kupraktekkan.

Matahari perlahan turun diperaduannya tergantikan oleh sinar bintang dan bulan. Pembicaraan kami tetap berlanjut. Kali itu dia memberikan kami ilmu dan juga berbagi mengenai pengalamannya. Aku menatapnya lekat, menajamkan pendengaran juga fokusku. Takut sewaktu-waktu melewatkan walau hanya sepatah kata dari penjelasannya. Juga fakta baru yang kudapatkan dia suka menulis. Aku bahkan belum pernah mendapati seorang laki-laki disekitarku yang mempunyai hobby yang sama denganku.

Sore itu adalah dialog yang sangat-sangat berkesan. Melebihi apapun. Seumur hidupku. Mendapati sosok lelaki yang mempunyai minat tinggi terhadap sastra, mempunyai paham terhadap sejarah dan memiliki ketertarikan terhadap filsafat. Dia adalah sosok lelaki unik dengan tatapan mata sayu nan candu.
Hingga kini…
Tatapan sendu nan sayunya masih melekat, bahkan tawanya masih terngiang-ngiang dalam tiap ruang tertentu di pikiranku.

Comments

Popular posts from this blog

Semestaku

Kembali Untuk Pergi