Belajar Menjadi Dewasa Dengan Rasa Sakit
Mungkin
tidak semua awal yang baik berakhir dengan yang baik pula. Begitu pun sebuah
pertemuan tidak selamanya menjumpai akhir yang bahagia. Ada begitu banyak hal
yang menjadi alasan mengapa Tuhan menciptakan sebuah rasa sakit. Menjadi dewasa
dengan berbagai cara. Dipertemukan dengan
seseorang hanya untuk saling
mengetahui sepihak, berkenalan, bahkan menjadi akrab. Namun
tidak semua scenario orang sama. Pada sebagian mereka, scenario kadang
tidak menyenangkan. Tetapi sejauh apapun kita menolak scenario itu pasti akan tetap
dijalani. Layaknya artis yang melakoni sebuah peran.
Enam
tahun tentu bukan waktu yang singkat untuk membangun pertahanan dan untuk
menata hati. Menerima orang baru dan untuk masuk ke dalam dunianya. Setelah hancur
berkeping-keping rasanya enggan untuk mengais lagi mencari sisa kepingan
kenangan yang telah hilang. Sakit? Tentu. Tapi tak boleh berlarut. Semua punya
porsinya. Rasa sakit pasti akan digantikan dengan rasa bahagia. Sesuai takarannya.
Enam
tahun berlalu kiranya semua kenangan dan luka sudah dibalut. Disimpan dan
ditutup serapat mungkin agar tidak ada lagi yang tersisa. Tetapi benarkah
melupakan sama dengan memaafkan? Memaafkan artinya hidup baik-baik saja? enggan
hati menjawab ‘iya’sebab ada sudut tertentu yang masih rapuh dan tidak akan
pernah menjadi ‘baik-baik saja’
Sugesti.
Mencoba untuk menyugesti diri sendiri kalau saja rasa sakit itu suatu hari
nanti akan tergantikan. Sekeras apapun, telah kucoba. Terjatuh. Terpuruk. Bahkan
ketika keramaian mengambil alih, hati selalu dihantui rasa sepi. Jiwa entah
berantah ada dimana. Jangan lupakan ketika kalian sedang jatuh cinta
sejatuh-jatuhnya sebuah nasehat akan menjadi hal yang sia-sia. Semua akan dibutakan
oleh kata ‘C I N T A’.
Suatu
ketika, siklus itu telah berakhir. Kukira aku mencoba bangkit untuk melupakan rasa
sakit. Menghapus segala keresahan dan membuka mata lebar-lebar. Menatap dunia
serta membangun tembok pertahanan yang telah disusun sedemikian rapi. Menjadi wanita
baja yang akan sulit untuk ditaklukan hatinya. Hingga hari itu, scenario semesta
mempertemukan kita.
Sosoknya
berdiri tegap dengan senyuman tipis khasnya menenteng suatu barang. Seketika,
duniaku berhenti. Pasokan oksigen sekitar rasanya kurang tak mencukupi. Cairan panas
sewaktu-waktu akan tumpah tak terbendung. Detik itu juga, ada rasa sakit yang
tidak tampak namun nyata untuk dirasa. Seperti ada yang meremas jantungku. Dan dalam
sekejap seperti wanita baja, kokoh diluar namun sewaktu-waktu dapat hancur
sekali pukulan karena hanya diisi oleh ruang udara. Begitu hampa dan menjadi keeping-keping.
Rasanya
tidak mungkin aku akan mengatakan ‘berdamailah dengan masa lalu’ karena aku
kini bahkan tidak dapat mendamaikan hatiku dengan masa lalu. Terkadang, ada
ruang tertentu yang berhasil mendistraksi pikiran dan perasaan sewaktu-waktu
yang dapat terbuka dan menjadi granat untuk diri sendiri. Secara sporadic,
muncul dan terputar dengan sendirinya tanpa diminta.
Namun
aku belajar bahwa rasa sakit banyak mengajarkan hal baru. Mengajari cara untuk
bertahan dan bersikap dewasa. Dua hal itu melatarbelakangi sebab kutulis kisah
ini. Agar kalian paham untuk tidak menjadikan rasa sakit sebagai alasan untuk
terpuruk semakin dalam melainkan untuk membuktikan bahwa rasa sakit ada untuk
mendewasakan diri.

Terpuruk karena tersakiti😌
ReplyDelete