Kembali Untuk Pergi
Sekelebat awan kelabu menghiasi langit.
Rintik hujan yang jatuh dari atap café membawa suasana menenangkan tersendiri bagiku.
Setelah tiga tahun menanti kabar darimu, waktu kini menjawab semuanya. Aku sudah sampai. begitu pesan singkat darimu masuk aku segera berdiri untuk mencari eksistensimu.
Seorang laki-laki menggunakan jaket abu-abu dengan dalaman kaos oblong hitam lengkap dengan celana jeans panjang dan sepatu New Balance biru navy berjalan kearahku.
“Hai. Sudah lama, ya?” tanyamu membuka percakapan.
“Tidak juga. Hujan di luar deras. Secangkir espresso untuk menghangatkan badan?” tawarku dan kau mengangguk tersenyum ke arahku.
Pelayan lalu datang kearah kami.
“Secangkir espresso dan matcha latte. Kau mau makan apa?” tanyaku meliriknya.
“donat cokelat saja”
“donat cokelat dan sponge cake” jelasku kepada pelayan yang mencatat pesanan kami.
Kau menatap eksistensiku dengan tatapan yang sulit kuartikan. “kenapa? Ada yang aneh, ya?” tanyaku menaikkan alis.
“Kau hanya tampak lebih cantik dan juga…. lebih dewasa”
Aku tertawa sambil memutar bola mata. “bagaimana kuliahmu?” kau mengambil alih tanya.
“bagaimana apanya?” tanyaku retoris. Kau mendengus kesal lantas aku tertawa. “baik. Semuanya berjalan dengan lancar”, jelasku.
“bagaimana dengan pekerjaanmu?” tanyaku melipat kedua tangan di atas meja. “yaaa.. seperti kau lihat. Tidak ada yang berubah. Stagnan” jawabmu sekenanya.
Kau sedikit berubah kala itu. Janggut dan kumis tipis mulai menghiasi wajahmu. Pelayan café datang membawakan pesanan kita.
“sejak kapan kau menyukai matcha latte? Sudah berpindah dari cappuccino?” kau bahkan mengetahui secara detail minuman favoritku.
“sejak…. Aku tau semua orang akan mengubah pilihan hidupnya” kataku dengan sangat tenang. Aku menyesap minumanku berharap kata-kata tersebut dapat kutelan bersama pahitnya matcha latte ke dalam tenggorokan.
“kau baik-baik saja?” tanyamu khawatir. Tidak. Aku sedang tidak baik-baik saja semenjak kau pergi meninggalkanku.
“tentu. Kau tau aku selalu baik-baik saja” kulayangkan senyuman tipis. Namun raut wajahmu berubah.
“kau bahkan tidak pandai berbohong. Jangan pernah coba berbohong di depanku” telak. Kata-katamu tepat sasaran.
Kau menatapku dengan pandangan yang sangat sulit kuartikan. Aku membuang muka kearah luar jendela. Menyaksikan kendaraan lalu lalang di luar sana bersama jatuhnya rintik hujan. Aku berusaha menepis perasaan aneh ini.
“kau semakin dewasa. Terakhir kali kita bertemu sewaktu kau masih SMA, seorang gadis tomboy yang selalu mengenakan kemeja dan sepatu converse. Lihat penampilanmu sekarang. Sudah menggunakan dress” kata-katamu mengalun bebas di pendengaranku.
Ya, aku banyak berubah. Karenamu.
Aku hanya memberi senyum simpul. “kau juga banyak berubah” kataku menimpali. “tumben kembali ke kota ini, ingin mengurus sesuatu? Biasanya kau akan meminta tolong denganku”.
Kau menyodorkan sebuah kertas persegi dengan motif floral berwarna putih gading ke arahku. Aku menatap undangan tersebut tak percaya. Benar-benar tak percaya ketika mendapati namamu berada di salah satu pojok undangan. Seolah langit mendung diluar sana sedang menggambarkan suasana hatiku. Aku masih diam membeku.
Perlahan kuambil, lalu kubaca sampul depan undangan tersebut. Yang benar saja, semesta sedang bercanda.
“Selamat ya..” hanya kata tersebut yang dapat ku ucapkan. Selamat kau menghancurkan aku. Aku tercekat. Rasanya air mata akan jatuh mengalir begitu bebas. Aku memasang senyum terbaik mungkin.
“terima kasih. Kau harus datang, ya. Kau kan adik ku yang paling berkesan” tanganmu mengacak-acak rambutku.
Dan aku… sekali lagi hanya tersenyum tegar menatap kedua bola matamu.

Hrus prpisahan bnget yahh nun?
ReplyDeleteWkwk kan semua akan berpisah pada waktunya
DeleteBahagiaku baca
ReplyDeletekekhawatiran?
ReplyDelete