Juni Dalam Keasingan
Perihal hujan di bulan Juni turun dengan deras. Bait-bait puisi masih membekas serta musikalisasi puisi Aku Ingin-Sapardi Djoko Damono mengalun dengan bebas.
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
Dengan kata yang tak sempat di ucapkan kayuKepada api yang menjadikannya abu
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
Dengan isyarat yang tak sempat di sampaikanAwan kepada hujan yang menjadikannya tiada
Aku mendongak menatap langit yang penuh dengan kebisuan. Warna kelabu masih mendominasi dan rintik hujan menghiasi. Kuambil buku Hujan Bulan Juni karangan Sapardi Djoko Damono yang tergeletak bersama kumpulan buku-buku lainnya. Membuka tiap lembarannya yang kini mulai usang. Pada salah satu bab yang bertuliskan Di Beranda Waktu Hujan, aku mendapati sepucuk surat.
Sejenak aku menghela napas. Udara dingin pada saat hujan seolah-olah menembus tulang. Kubuka amplop surat dan mendapati tulisan itu lagi. Dua tahun berlalu dan rasanya masih saja berat. Sebelum beranjak pergi dia pernah berjanji untuk kembali.
“saya akan kembali,” lirihnya dalam rintik hujan. Saat itu, tidak pantas aku berucap untuk tetap disini karena raganya sudah jauh tidak bisa kugapai. Dia mengeluarkan sebuah buku dari ransel, “ini untukmu. Sebagai kenang-kenangan”. Aku mengambil buku yang bertuliskan Hujan Di Bulan Juni tersebut. Kutatap ia dengan tanda tanya. “seminggu yang lalu saya liat kamu ke toko buku mencari buku itu. Sewaktu kemarin ke toko buku saya melihat itu dan teringat kamu”. Dia tersenyum tulus hingga membuat kedua matanya tertarik sempurna menjadi sipit.
Ah, senyum itu. Dua tahun berlalu dan senyumnya adalah hal yang paling kurindukan. Dengan segera kuraih secangkir coffee latte lalu menyesapnya berharap kenangan tentang dirinya akan sirna. Namun sepertinya aku salah. Aku mendapati diri semakin kalut tatkala mengingat kedua bola mata hitamnya tengah menatapku. Tatapannya yang terkadang misterius juga membius.
Dia yang dulunya akan memesan secangkir kopi hitam. Seperti kedua bola matanya yang pekat, lelaki misterius yang berhasil merobohkan dinding pertahananku. Dia yang berhasil meluluhlantakkan duniaku, sang Gadis Kaku. Dengan senang hati akan kudengar tentang retorika bahasanya tentang politik dan sastra. Dia yang berhasil membuatku tersenyum kala luka lama masih mendiami hati.
“Dasar Gadis Kaku. Kalau mau tertawa, tertawa saja. Dunia ini cukup kejam dengan realita yang ada. Jangan terlalu serius. Ambisi boleh. Tapi jangan lupa kamu harus menikmati hidup yang singkat ini”. Dia mencibir ketika aku masih menekuri tugas kuliah dan beberapa laporan. Lantas setelah itu dia akan menutup laptopku dan mengabaikan tatapan protesku.
Alih-alih marah, aku justru tersenyum dan bersyukur dalam hati karena takdir terasa sangat menyenangkan ketika bertemu dengannya. Kemudian dia akan mengajakku pergi ke gerai es krim.
“2 scoop ice cream cappuccino dan 2 scoop ice cream chocolate”, katanya sambil menyerahkan selembaran uang kepada pegawai. Aku tersenyum mengambil ice cream yang ia belikan dan mengucapkan terima kasih. Lalu dengan sikap jahilnya, dia mencolekkan ice cream ke pipiku dan berakhir dengan aksi kami yang saling kejar-kejaran seperti anak kecil.
Dua tahun lalu itu masih membekas. Kenangan berputar secara sporadik seperti kaset rusak yang terus menerus memutar pada moment tertentu. Hujan di bulan Juni kali ini benar-benar tidak bersahabat. Mengantarkan pada tiap kenangan yang ingin kusimpan rapat-rapat.
“Cinta itu sederhana. Sesederhana saya mengenalmu. Sesederhana saya yang tersenyum menatap kedua manik bola mata indahmu. Sesederhana saya ingin menghabiskan sisa hidup saya bersamamu di masa tua nanti. Saya ingin mencintaimu dengan sederhana seperti yang dikatakan Sapardi Djoko Damono dalam puisinya”.
Kata-katanya mengalun sangat sederhana dan terdengar indah di bulan Juni tepatnya tahun kedua kami saling bertemu. Aku menatapnya dalam diam dengan perasaan membuncah tidak karuan. Dia memelukku erat kala itu dan aku menangis sejadi-jadinya dalam pelukan hangat itu. Kali itu juga, aku menemukan rumahku. Tempat ternyaman yang pernah kutemui.
Tidak bertahan lama setelah itu, dia mengatakan lulus S2 di Universitas Melbourne, Australia dan akan lanjut di sana. Aku turut senang namun tidak dapat menyembunyikan kesedihan karena harus berpisah dengannya. Juni kembali melatarbelakangi kisah kami. Satu minggu setelah pengumuman dirinya dinyatakan lulus, aku mengantarnya ke bandara.
“Bukunya jangan lupa dibaca. Saya akan kembali. Saya janji”. Dia melemparkan senyuman khasnya seraya mengacak rambutku. Dia berbalik dan terus berjalan hingga punggungnya telah sirna dipenglihatanku. Harap cemas aku mendoakannya agar selamat sampai tujuan.
Namun takdir berkata lain, selepas dari bandara aku mendapatkan kabar bahwa pesawat yang ditumpanginya jatuh akibat badai hujan yang keras. Daerah sarafku rasanya mati, tungkai kaki rasanya sudah tidak mampu menopang badanku. Aku rasanya seperti ingin hilang bersama janji yang ia ucapkan. Hari itu aku menangis sejadi-jadinya dan diam dalam kesenyapan.
Hujan di Bulan Juni. Aku menutup buku itu dan menandaskan coffee latte serta memasukkan surat itu kedalam tas salempang. Hujan mulai reda dan hidupku terus berlanjut meski tanpa dirinya. Dia yang sangat teramat kurindukan.
Juni, 2016
Untuk Gadis Kaku,
Mungkin kamu akan membaca surat ini setelah saya sudah tidak berada di sisimu lagi. Percayalah, hari-hari dimana saya menghabiskan waktu bersamamu adalah waktu yang sangat menyenangkan dan tidak bisa saya lupakan.
Jangan lupa waktu makan. Jangan terlalu sering begadang kerja tugas. Sesekali habiskan waktumu untuk menatap cuaca cerah di langit. Kalau kamu sedang sedih, mampirlah cicipi es krim cappuccino.
Dan ya, jangan membenci hujan di bulan Juni. Karena hujan di bulan Juni adalah waktu pertama kali kita bertemu.
Untuk sekarang, rasanya aku lupa bagaimana cara untuk tersenyum. Bulan Juni penuh dengan rasa keasingan. Aku pun tidak tau bagaimana bersikap kembali seperti dulu, sebab dia membawa sekeping hatiku.
Aku adalah seorang gadis kaku yang merindukan kehangatan dari lelaki dengan mata sepekat kopi di bulan Juni.
*

Comments
Post a Comment