Wanita Baja
Aku mengenal seorang wanita baja. Fisiknya kuat, kokoh dan tidak mudah goyah. Ambisinya begitu besar. 24 jam waktunya dihabiskan dengan berbagai macam kesibukan. Segala kesulitan sama sekali tidak berarti apa-apa baginya. Hambatan maupun rintangan semuanya dilalui dengan senyuman. Tidak pernah terlintas rasa sedih dalam dirinya.
Berdiri, menopang diri sendiri. Badai seperti tak ada arti. Dia kuat. Sangat kuat untuk ukuran seorang wanita. Senyum dan tawa menghiasi hari-harinya. Menghibur orang-orang di sekitarnya. Menguatkan yang lemah, menyemangati yang patah. Katanya hidup hanya sekali, dia ingin bernilai dan bermanfaat dimata orang-orang yang ia pernah temui. Kasih sayang tak pernah ia dapatkan namun dengan senang hati membagi rasa sayang secara cuma-cuma. Rasa galau ia hiraukan. Rasa kecewa ia tepis. Tetap berjalan optimis dengan hidup. Suaranya lantang, berisi ketegasan ketika memimpin.
Aku mengenal wanita baja. Ia seperti tak butuh sosok penopang sebab dirinya sendiri ia jadikan tumpuan. Tak pernah bergantung dan selalu mandiri. Ketika langkahnya terhenti di tengah hujan deras, ia tak menangis melainkan terus berjalan walau rasa dingin seperti membius tulang. Dieratkannya parka dan tetap berjalan walau diguyur hujan. Tentu sulit yang ia rasakan, namun tidak ada kata berhenti dalam prinsipnya.
Sekali lagi, orang-orang menganggapnya kuat dan mandiri. Namun siapa sangka ditengah keramaian ia merasa hampa. Ditengah candaan ia merasa sedih. Ketika bersenda gurau ia ingin melampiaskan rasa kecewa. Dia wanita baja namun hanya tampilan dari luar saja. Setelah itu, sunyi mengambil alih. Berharap ada seseorang yang mampu memahami situasinya, berharap ada seseorang yang datang menawarkan pundak kepadanya. Walau hanya untuk menumpahkan keluh kesah dan amarah yang ia pendam.
Dia wanita baja adalah wanita rapuh. Hanya penampilan luar melihatnya tanpa celah. Dia wanita baja yang ingin digenggam, di usap kepalanya, di pahami rasa gusarnya. Dia wanita baja yang bersembunyi dibalik kemunafikan dunia. Sebab dunia enggan menerima wanita rapuh, dunia enggan menghargai wanita yang mudah menangis hanya karena tertimpa badai.
Dunia hanya mampu tertawa menyaksikan dirinya ditinggal orang yang ia sayangi. Pun setinggi pangkatnya menjadi pemimpin, ada saat tertentu ia butuh untuk dipimpin dan diarahkan. Dia ingin menjadi seorang perempuan. Namun semesta menempatkannya dalam keadaan yang tidak ia inginkan.
Malam ini, kusaksikan semua kerapuhan yang dikemasnya dalam tawa yang mengandung tangisan. Ia menyeka air mata, mencoba bangkit berdiri. Menarik napas dalam-dalam kemudian bangkit berdiri tegak. Benar, dia adalah wanita baja. Tak mesti rapuh walau seharusnya butuh. Walapun sadar, baja hanya tampilan luar saja dan hanya kekosongan yang mengisi didalamnya. Ketika rapuh, hancurlah seluruh rangkanya. Dan detik ini, aku sadar telah mengemas wanita baja dalam diri sendiri.

Kerennn euyyy
ReplyDeleteHiks true live banget
ReplyDeleteKeren
ReplyDeleteSaya kemana saja selama ini :(
ReplyDelete