Fragmen



Hati Puan telah mati
Jauh hari sebelum Tuan sakiti
Pergi Tuan,
Puan tak butuh lagi
Kemas janji
Jangan datang kembali


     Rasa sakit itu apa? Bagaimana wujud rasa bahagia? Pertanyaan itu terus bergelayut mesra pada sosok  perempuan  yang menikmati semilir angin di tepi pantai. Beberapa helaian anak rambutnya  bermain diterpa angin. Terus berjalan tanpa alas kaki sembari menutup mata menghirup udara pantai. Perlahan membuka matanya dan menatap langit yang berwarna semburat jingga kemerahan. Langkahnya terhenti merasakan deburan ombak yang menggulung pelan.  

     Rasa sakit itu apa? Bagaimana wujud rasa bahagia? Pertanyaan itu terus berputar secara sporadik diiringi dengan kenangan lama yang datang  tanpa menyapa menghampirinya. Dia ingin lupa tapi tak bisa. Dia ingin menghardik masa lalu, namun untuk apa? Semakin ia coba semakin mati rasa. Sang Puan hampir lupa bagaimana wujud dari air mata.  

    Memungut pundi kenangan tak ada gunanya. Percuma, sang Puan tak mampu merasakan rasa bahagia maupun rasa sakit. Ia dan rasanya telah lumpuh total. Sekali lagi ombak datang menggulung dengan hebat, kakinya goyah seperti tak bertulang dan bertumpu namun berusaha untuk tetap berdiri. Sang Puan bahkan tidak mampu mengingat siapa yang membuatnya seperti ini, yang hanya tercetak jelas dalam ingatannya adalah orang asing yang berhasil masuk ke dalam dunianya, memberi warna harinya, menjanjikan masa depan yang cerah kemudian lenyap seperti senja yang berganti menjadi malam.  

      Kini yang tersisa hanyalah warna hitam dan abu-abu tanpa alasan maupun kejelasan. Hawa dingin mulai menembus kulit namun raut wajah sang Puan seperti menampik. Wajahnya yang putih kini terlihat pucat pasih, bibir ranumnya yang berwarna seperti buah delima berganti menjadi biru gelap. Dia terus berdiri mencoba menantang ombak. Gaun putih tipis yang ia kenakan sudah basah terjamah air laut di bibir pantai. 

    Sang Puan masih tak mengerti apa yang terjadi pada dirinya sendiri, yang ia rasakan hanyalah hawa dingin namun tak mampu berucap, tak mampu mengatakan dirinya tengah ‘sakit’ dan butuh penawar. Dia tak butuh orang lain, ia baik-baik saja. Dia tak boleh lengah, dia harus tetap tegar seperti terumbu karang di laut yang dihempas ombak, tak akan goyah. 

   Malam itu, sebelum purnama penuh seutuhnya seseorang datang berlari dengan langkah panjang menghampirinya. Perlahan, ia sampirkan jaket ke pundak sang Puan dan merengkuhnya dalam diam kemudian berbisik pelan,
“Tolong berhenti menciptakan kerapuhan yang hanya kamu sendiri rasakan.”

Jarum jam seperti berhenti dan kala itu, tanpa sadar satu tetes air mata meluncur dengan bebas tanpa seizin dari sang Puan.

Comments

Popular posts from this blog

Semestaku

Dialog Sore

Kembali Untuk Pergi