Pekat Seperti Kopi Hitam

                                      

Air mata di tahun 2020 yang jatuh entah karena alasan apa. Mengabaikan proposal penelitian dan opini, merangkai kata sembari mendengarkan spotify. Sepertinya kita butuh untuk jujur dengan diri sendiri. Berhenti berlagak seperti baik-baik saja namun sesungguhnya sedang tidak baik-baik saja. Bercerita dalam diam dengan langit malam, mengabaikan pikiran yang sedang carut marut. Kita butuh untuk tidak baik-baik saja hanya untuk mengadu pada langit yang kelam. Kita butuh istirahat sejenak untuk melanjutkan setengah perjalanan yang ada. Tidak mengapa patah untuk kemudian bangkit kembali. Tidak mengapa sakit untuk kemudian sembuh kembali. Semua butuh jeda untuk melanjutkan spasi yang terhenti.

Seperti aku yang apatis namun tersadar ada banyak perhatian yang diberikan namun sering  ku sia-siakan. Mereka bilang, “Nun, pikiranmu rumit begitupun hidupmu.” Aku memilih diam. Benar adanya, otakku enggan diajak kompromi walau sedetik. Seperti punya ruang sendiri untuk saling bertukar pikiran yang senang menari-nari tiap waktu mengabaikan protes sang empu. Ini bukan kisah, hanya sekumpulan kata yang berusaha di susun untuk menyadarkan diri untuk jujur pada pribadi yang mengaku tangguh.

 Aku mengaku kalah pada bulan yang sedang berpendar terang di balik jendela kamar malam ini. Aku mengaku salah pada bintang yang tidak nampak malam ini. Jika boleh jujur, aku ingin menumpahkan resahku pada seseorang yang sedang menyesap cerutunya disamping menandaskan secangkir kopi hitam. Bertukar pikiran dan menatap dalam manik matanya yang sepekat kopi. Peduli setan dengan pembahasan sistem politik di negeri ini, aku hanya ingin mendengar suara baritonnya dengan picik mencuri alih duniaku. Dia yang dianggap aneh di dunia ini sebab enggan bersandiwara namun selalu ingin ku rengkuh masuk ke dalam duniaku. Mengajarkanku untuk jujur pada pribadi sendiri. “Apa yang lebih menyenangkan dibanding berdiskusi dan membaca buku?” tanyanya sembari menghisap cerutu meninggalkan asap yang mengepul di udara. Aku tersenyum menatap wajahnya yang misterius, “Tidak ada, kecuali memandang bibirmu yang senang bercerita.” 


Comments

Popular posts from this blog

Semestaku

Dialog Sore

Kembali Untuk Pergi