Posts

Showing posts from 2019

Juni Dalam Keasingan

Image
     Perihal hujan di bulan Juni turun dengan deras. Bait-bait puisi masih membekas serta musikalisasi puisi Aku Ingin-Sapardi Djoko Damono mengalun dengan bebas.      Aku ingin mencintaimu dengan sederhana      Dengan kata yang tak sempat di ucapkan kayu      Kepada api yang menjadikannya abu      Aku ingin mencintaimu dengan sederhana      Dengan isyarat yang tak sempat di sampaikan      Awan kepada hujan yang menjadikannya tiada      Aku mendongak menatap langit yang penuh dengan kebisuan. Warna kelabu masih mendominasi dan rintik hujan menghiasi. Kuambil buku Hujan Bulan Juni karangan Sapardi Djoko Damono yang tergeletak bersama kumpulan buku-buku lainnya. Membuka tiap lembarannya yang kini mulai usang. Pada salah satu bab yang bertuliskan Di Beranda Waktu Hujan, aku mendapati sepucuk surat.       Sejenak aku menghela napa...

Kembali Untuk Pergi

Image
   Hujan deras kembali mengguyur kota ini.    Sekelebat awan kelabu menghiasi langit.    Rintik hujan yang jatuh dari atap café membawa suasana menenangkan tersendiri bagiku. Setelah tiga tahun menanti kabar darimu, waktu kini menjawab semuanya. Aku sudah sampai. begitu pesan singkat darimu masuk aku segera berdiri untuk mencari eksistensimu. Seorang laki-laki menggunakan jaket abu-abu dengan dalaman kaos oblong hitam lengkap dengan celana jeans panjang dan sepatu New Balance biru navy berjalan kearahku. “Hai. Sudah lama, ya?” tanyamu membuka percakapan. “Tidak juga. Hujan di luar deras. Secangkir espresso untuk menghangatkan badan?” tawarku dan kau mengangguk tersenyum ke arahku. Pelayan lalu datang kearah kami. “Secangkir espresso dan matcha latte. Kau mau makan apa?” tanyaku meliriknya. “donat cokelat saja” “donat cokelat dan sponge cake” jelasku kepada pelayan yang mencatat pesanan kami. Kau menatap eksistensiku dengan tatapan yang s...

Jeda Untuk Rasa

Image
   Pernah ada seorang remaja laki-laki dengan tinggi sekitar 160 cm menghiasi hari-hariku. Tidak, lebih tepatnya dia mengacaukan hari-hariku. Sebab aku membenci dirinya. Dia senang memanggilku dengan sebutan salah satu tokoh kartun. Di setiap kami bertemu, dia selalu menyapaku dengan nama tokoh kartun tersebut. Kuakui dia memang tampan. Dengan rambut hitam lebat berdiri seperti landak.       Di pagi hari aku selalu mendapati dirinya sibuk bermain game di ponsel. Pun bahkan saat jam pembelajaran berlangsung, dia tetap sibuk bersama ponselnya. Dia senang meledekku hingga tidak jarang membuat amarahku naik pitam. Ketika jam pembelajaran selesai, dia akan menghampiriku.    Aku berdecak kesal saat dia mengambil tempat duduk disampingku. “Minggir” kataku. Namun dia tetap saja duduk disana sambil melemparkan senyum lebarnya. Jika aku adalah salah satu fans nya, maka aku akan meleleh dihadiahi senyum tersebut. Sayangnya menurutku senyum itu ada...

Pulanglah, Aku Rindu

Image
         Kembalilah ke kota ini. Banyak kisah yang ingin ku cerita. Tentangku, tanpamu. Ingin jumpa untuk  mempertemu  rindu. Sesaat setelah kau pergi kupikir akan baik-baik saja, namun aku keliru. Nyatanya rindu adalah perihal yang tidak bisa dianggap biasa. Sebab dirimu adalah sekeping hati yang sewaktu-waktu dapat membuat kehilangan pun menyempurnakan bagian yang lain. Karenamu aku paham bahwa kebersamaan adalah hal yang paling berharga.          Pulanglah ke kota ini,      Aku ingin bercerita banyak hal kepadamu. Dan bagian favoritku adalah ketika kau membiarkan kopi espressomu hangat sembari mendengarkanku berceloteh panjang. Tentang novel yang baru ku tamatkan hingga tentang film romansa yang menyentuh hati. Dan aku akan senang membiarkanmu melemparkan berbagai pertanyaan dan argumen sembari aku menyesapi secangkir kopi latte yang sudah ku pesan. Sesekali matamu menyipit dan gelak tawa keluar dari bib...

Dialog Sore

Sore itu matahari bersembunyi dibalik awan kelabu. Tidak terlalu nampak. Aku memasuki sebuah ruangan dengan nuansa krem pada dinding tembok serta terdapat beberapa tulisan didalamnya. Aku mendapati sosok lelaki menggunakan celana jeans coklat muda dan baju kaos lengan panjang tengah berbincang sambil sesekali tertawa. Aku lantas masuk dan mengambil tempat duduk dihadapannya. Wajahnya familiar, ah aku ingat! Itu adalah pertemuan kedua kami. Aku tersenyum kepadanya sebagai bentuk sapaan. Lalu dia mulai membuka obrolan. Dia bertanya mengenai namaku dan kami berbincang-bincang ringan. Wajahnya tidak terlalu bulat juga tidak tirus, kulitnya putih pasi, rambut lebat hingga menutupi keningnya serta alis rapi yang membingkai kedua mata sayunya.  Perhatianku diambil alih oleh banyaknya novel yang berserakan di atas  karpet. Rupanya, itu miliknya. Aku mengambil satu karya novel Pram yang berjudul Bumi Manusia. Novel itu sudah lama ingin kubaca. Aku mengambilnya dengan...