Jeda Untuk Rasa


   Pernah ada seorang remaja laki-laki dengan tinggi sekitar 160 cm menghiasi hari-hariku. Tidak, lebih tepatnya dia mengacaukan hari-hariku. Sebab aku membenci dirinya. Dia senang memanggilku dengan sebutan salah satu tokoh kartun. Di setiap kami bertemu, dia selalu menyapaku dengan nama tokoh kartun tersebut. Kuakui dia memang tampan. Dengan rambut hitam lebat berdiri seperti landak. 
  
  Di pagi hari aku selalu mendapati dirinya sibuk bermain game di ponsel. Pun bahkan saat jam pembelajaran berlangsung, dia tetap sibuk bersama ponselnya. Dia senang meledekku hingga tidak jarang membuat amarahku naik pitam. Ketika jam pembelajaran selesai, dia akan menghampiriku.

   Aku berdecak kesal saat dia mengambil tempat duduk disampingku. “Minggir” kataku. Namun dia tetap saja duduk disana sambil melemparkan senyum lebarnya. Jika aku adalah salah satu fans nya, maka aku akan meleleh dihadiahi senyum tersebut. Sayangnya menurutku senyum itu adalah salah satu senyum terjijik yang pernah kutemui. Aku memutar bola mata dan mendengus kesal ketika dia mulai berulah.

    Lagi dan lagi dia mengejekku dengan sebutan burenk ketika aku enggan membantu untuk menyelesaikan tugasnya. Atau dia akan menyebutku pelit. Aku sudah terbiasa dengan hal tersebut, hanya saja kedengarannya cukup menjengkelkan. Tidak jarang dia juga mengacaukan jilbabku, memelas untuk meminta tolong namun dengan cara menghina. Sungguh sangat memuakkan.

     Suatu hari, aku pernah menulis sebuah cerita di dalam notes kecil yang sering kubawa ke sekolah. Aku meninggalkannya di atas meja lantas pergi ke kantin. Betapa kagetnya aku mendapati dia tengah asyik membaca notes yang kutinggalkan beberapa menit lalu. Segera aku mencoba untuk menghentikannya. Sia-sia, dia berdiri mengacungkan notesku ke atas. Dia lebih tinggi dariku. Aku bahkan mengejarnya hingga keluar kelas. Ketika mendapatkan kembali notesku dia memasang tampang nyengir tak bersalah. 

     Hampir setiap malam dia memulai percakapan di Line. Entah untuk men tag ku pada akun tidak jelas, spam beberapa chat hingga mempermalukanku di grub kelas. Aku sering berdebat dengannya tentang semua hal dan berakhir dengan sia-sia. Karena dia akan tetap memutar pembahasan tersebut hingga aku lelah.

     Semua temanku menjuluki kami Tom and Jerry karena tidak pernah akur. Dia juga sering menduga-duga tokoh yang ada di dalam ceritaku lantas keningnya berkerut seperti berpikir keras. Selalu kuhadiahi dia dengan celotehan yang panjang karena terlalu malas untuk menanggapi nasehat-nasehatku. 

     Hingga pagi itu datang, semuanya berubah. Dia menjaga jarak. Tidak pernah memanggilku lagi dengan sebutan kartun dan sikap pecicilannya telah sirna. Dia benar-benar berubah. Bicara seadanya, jauh dari sikapnya sehari-hari yang senang berceloteh tidak jelas. Dia tidak pernah lagi menghadangku masuk ke dalam kelas. Tatapan jenakanya hilang entah kemana. Bahkan dia tidak melirik ke arahku atau meminta pertolongan.

     Rasanya….. aneh. Lebih tepatnya seperti ada sesuatu yang hilang. Harusnya aku senang karena dia tidak lagi mengganggu atau menjahiliku. Malam itu aku menunggu notifikasinya masuk. Nihil. Ku rasa dia kini benar-benar berubah. 

     Baru aku rasai setelah itu bahwa aku terbiasa dengan semua celotehan tidak jelasnya, aku cukup terhibur dengan perdebatan kecil yang ia mulai atau merasa dihargai ketika dia turut membantuku. Dan pertemuan terakhir kami setahun lalu tidak ku akhiri dengan cara yang tidak baik melainkan dengan sikap apatis yang kuberi. Ah, aku ingat. Chat terakhirnya berisi bahwa ia ingin melanjutkan kuliahnya keluar kota bahkan ia meminta saranku mengenai jurusan yang ingin ia ambil. Benar saja, dia sudah meninggalkan kota ini. Menjadi anak rantau di luar sana.

      Jika diberi kesempatan, aku ingin memulai percakapan. Seperti “Hai, bagaimana kuliahmu disana? Lama tak bertemu”

Comments

Popular posts from this blog

Semestaku

Dialog Sore

Kembali Untuk Pergi