Posts

Semestaku

Image
Aku pernah mengenal seseorang. Kami belum pernah bertemu secara langsung karena sebuah jarak yang memisahkan. Singkatnya hanya berkenalan melalui gawai secara virtual. Sebelumnya aku tidak pernah memiliki gambaran tentang dunia virtual seperti apa hingga semesta entah dengan cara seperti apa memperkenalkanku dengan dirinya yang jauh di seberang pulau. Sebuah gambar pertama kali kukirimkan untuk membuka percakapan random yang direspon olehnya. Dia memiliki minat dalam mempelajari logat bahasa daerahku. Untuk pertama kalinya aku yang tidak begitu senang dalam merespon pesan orang asing merasa seperti ada tarikan magnet dari arah kutub lain untuk membalas pesan darinya . Lucunya percakapan teks kami berlanjut seharian dengan membahas topik random yang terlintas begitu saja. Aku tentu merasa penasaran dengan identitas orang asing yang tengah kutemani ini. Tampak foto profil laki-laki dari samping mengenakan jaket hoodie hitam dan masker putih dengan warna latar yang kontras menarik ...

Semestaku

Image
Aku pernah mengenal seseorang. Kami belum pernah bertemu secara langsung karena sebuah jarak yang memisahkan. Singkatnya hanya berkenalan melalui gawai secara virtual. Sebelumnya aku tidak pernah memiliki gambaran tentang dunia virtual seperti apa hingga semesta entah dengan cara seperti apa memperkenalkanku dengan dirinya yang jauh di seberang pulau. Sebuah gambar pertama kali kukirimkan untuk membuka percakapan random yang direspon olehnya. Dia memiliki minat dalam mempelajari logat bahasa daerahku. Untuk pertama kalinya aku yang tidak begitu senang dalam merespon pesan orang asing merasa seperti ada tarikan magnet dari arah kutub lain untuk membalas pesan darinya . Lucunya percakapan teks kami berlanjut seharian dengan membahas topik random yang terlintas begitu saja. Aku tentu merasa penasaran dengan identitas orang asing yang tengah kutemani ini. Tampak foto profil laki-laki dari samping mengenakan jaket hoodie hitam dan masker putih dengan warna latar yang kontras menarik ...

Beginning of 2021

Image
  First page in January 2021 source : pinterest Waktu bergulir begitupun tahun. Tanpa dirasa 2020 kemarin berhasil dilalui dengan berbagai macam kejadian. Pandemi Covid-19 menjadi sejarah baru dalam peradaban manusia. Menciptakan jarak, pola hidup baru dan beradaptasi dengan gaya hidup sehat. Memaksa kita untuk sadar bahwa apa yang menjadi resolusi di tahun 2020 kemarin tidak sepenuhnya berada dalam kendali kita. Semesta punya jalan dan cerita sendiri terlepas dari rencana yang telah dibuat. Siapa yang sangka, virus dengan ukuran mikro mampu memporak-porandakan rencana yang sudah di susun sedemikian rupa, merampas kehidupan orang terdekat dan terkasih serta menjadi momok yang menakutkan bagi sebagian orang. Rasanya seperti diberi jeda untuk beristirahat. Online school, work from home , etc. semua serba online . Menciptakan jarak agar mengurangi laju pertumbuhan virus. Teknologi menjadi alat vital untuk tetap menjalin komunikasi di luar sana. Lebih banyak merenung dan introspek...

Pekat Seperti Kopi Hitam

Image
                                        Air mata di tahun 2020 yang jatuh entah karena alasan apa. Mengabaikan proposal penelitian dan opini, merangkai kata sembari mendengarkan spotify. Sepertinya kita butuh untuk jujur dengan diri sendiri. Berhenti berlagak seperti baik-baik saja namun sesungguhnya sedang tidak baik-baik saja. Bercerita dalam diam dengan langit malam, mengabaikan pikiran yang sedang carut marut. Kita butuh untuk tidak baik-baik saja hanya untuk mengadu pada langit yang kelam. Kita butuh istirahat sejenak untuk melanjutkan setengah perjalanan yang ada. Tidak mengapa patah untuk kemudian bangkit kembali. Tidak mengapa sakit untuk kemudian sembuh kembali. Semua butuh jeda untuk melanjutkan spasi yang terhenti. Seperti aku yang apatis namun tersadar ada banyak perhatian yang diberikan namun sering  ku sia-siakan. Mereka bilang, “Nun, pikiranmu rumit begitupun hidupmu...

Fragmen

Image
Hati Puan telah mati Jauh hari sebelum Tuan sakiti Pergi Tuan, Puan tak butuh lagi Kemas janji Jangan datang kembali      Rasa sakit itu apa? Bagaimana wujud rasa bahagia? Pertanyaan itu terus bergelayut mesra pada sosok  perempuan  yang menikmati semilir angin di tepi pantai. Beberapa helaian anak rambutnya  bermain diterpa angin. Terus berjalan tanpa alas kaki sembari menutup mata menghirup udara pantai. Perlahan membuka matanya dan menatap langit yang berwarna semburat jingga kemerahan. Langkahnya terhenti merasakan deburan ombak yang menggulung pelan.        Rasa sakit itu apa? Bagaimana wujud rasa bahagia? Pertanyaan itu terus berputar secara sporadik diiringi dengan kenangan lama yang datang  tanpa menyapa menghampirinya. Dia ingin lupa tapi tak bisa. Dia ingin menghardik masa lalu, namun untuk apa? Semakin ia coba semakin mati rasa. Sang Puan hampir lupa bagaimana wujud dari air mata. ...

Wanita Baja

Image
    Aku mengenal seorang wanita baja. Fisiknya kuat, kokoh dan tidak mudah goyah. Ambisinya begitu besar. 24 jam waktunya dihabiskan dengan berbagai macam kesibukan. Segala kesulitan sama sekali tidak berarti apa-apa baginya. Hambatan maupun rintangan semuanya dilalui dengan senyuman. Tidak pernah terlintas rasa sedih dalam dirinya.          Berdiri, menopang diri sendiri. Badai seperti tak ada arti. Dia kuat. Sangat kuat untuk ukuran seorang wanita. Senyum dan tawa menghiasi hari-harinya. Menghibur orang-orang di sekitarnya. Menguatkan yang lemah, menyemangati yang patah. Katanya hidup hanya sekali, dia ingin bernilai dan bermanfaat dimata orang-orang yang ia pernah temui. Kasih sayang tak pernah ia dapatkan namun dengan senang hati membagi rasa sayang secara cuma-cuma. Rasa galau ia hiraukan. Rasa kecewa ia tepis. Tetap berjalan optimis dengan hidup.  Suaranya lantang, berisi ketegasan ketika memimpin.      Aku...

Juni Dalam Keasingan

Image
     Perihal hujan di bulan Juni turun dengan deras. Bait-bait puisi masih membekas serta musikalisasi puisi Aku Ingin-Sapardi Djoko Damono mengalun dengan bebas.      Aku ingin mencintaimu dengan sederhana      Dengan kata yang tak sempat di ucapkan kayu      Kepada api yang menjadikannya abu      Aku ingin mencintaimu dengan sederhana      Dengan isyarat yang tak sempat di sampaikan      Awan kepada hujan yang menjadikannya tiada      Aku mendongak menatap langit yang penuh dengan kebisuan. Warna kelabu masih mendominasi dan rintik hujan menghiasi. Kuambil buku Hujan Bulan Juni karangan Sapardi Djoko Damono yang tergeletak bersama kumpulan buku-buku lainnya. Membuka tiap lembarannya yang kini mulai usang. Pada salah satu bab yang bertuliskan Di Beranda Waktu Hujan, aku mendapati sepucuk surat.       Sejenak aku menghela napa...

Kembali Untuk Pergi

Image
   Hujan deras kembali mengguyur kota ini.    Sekelebat awan kelabu menghiasi langit.    Rintik hujan yang jatuh dari atap café membawa suasana menenangkan tersendiri bagiku. Setelah tiga tahun menanti kabar darimu, waktu kini menjawab semuanya. Aku sudah sampai. begitu pesan singkat darimu masuk aku segera berdiri untuk mencari eksistensimu. Seorang laki-laki menggunakan jaket abu-abu dengan dalaman kaos oblong hitam lengkap dengan celana jeans panjang dan sepatu New Balance biru navy berjalan kearahku. “Hai. Sudah lama, ya?” tanyamu membuka percakapan. “Tidak juga. Hujan di luar deras. Secangkir espresso untuk menghangatkan badan?” tawarku dan kau mengangguk tersenyum ke arahku. Pelayan lalu datang kearah kami. “Secangkir espresso dan matcha latte. Kau mau makan apa?” tanyaku meliriknya. “donat cokelat saja” “donat cokelat dan sponge cake” jelasku kepada pelayan yang mencatat pesanan kami. Kau menatap eksistensiku dengan tatapan yang s...